Ikhwanul Muslimin dan Prioritas Kebangkitan Islam

Dalam salah satu bukunya (Keprihatinan Seorang Juru Dakwah), Syaikh Muhammad Al Ghazali rahimahullah bercerita tentang seorang mahasiswa ilmu kimia* yang ingin mendalami ilmu Kalam. Lalu Syaikh Muhammad Al Ghazali menegurnya karena lebih baik dia fokus pada ilmu yang kini dipelajarinya, bukan mempelajari ilmu Kalam yang bukan prioritas utama baginya. Lalu Syaikh memberi motivasi tentang pentingnya mempelajari ilmu kimia bagi umat Islam.

Saya terkesan dengan pandangan Syaikh Muhammad Al Ghazali ini yang saya ingat selalu dalam benak saya walaupun saya membaca buku itu sekitar 20 tahun yang lalu di perpustakaan daerah. Pandangan ini saya jumpai juga dibeberapa buku Syaikh. Dan juga adalah pandangan kebanyakan ulama-ulama Ikhwan seperti halnya Imam Hasan Al Banna dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi rahimahumullah. Anak-anak Hasan Al Banna secara akademik adalah orang-orang cerdas. Dua di antaranya bergelar doktor, salah satunya profesor ekonomi. Begitupun dengan anak-anak Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, bergelar doktor di bidang fisika nuklir, kimia, matematika, dan biologi genetika. Sepertinya mereka berusaha mempersiapkan diri dan anak cucu mereka, kader² mereka menyambut masa depan untuk mengisi celah² kekosongan yang sudah lama ditinggalkan umat ini.

Dalam manhaj Ikhwanul muslimin, Imam Hasan Al Banna sudah menggariskan tema-tema besar agar umat ini bersatu, misalnya dalam Ushul isyrin. Bagi saya ini adalah pemikiran yang brilian. Walaupun dikemas dengan bahasa yang sederhana, tidak njelimet, tapi memuat hal yang realitas di tengah masyarakat Islam saat ini. Kader² Ikhwan hendaknya mempelajari Ushul isyrin ini dan juga buku² manhaj lainnya seperti mudzakirat da’wah wad Daiyah dan risalah ta’lim. Agar mereka sadar hal apa yang menjadi prioritas saat ini ketimbang perdebatan² yang selalu diulang dari zaman dulu, menghabiskan energi umat, apalagi seputar furuiyah yang tidak berkesudahan. Wallahu a’lam.