Ikhwanul Muslimin Sebagai Gerakan Irsyadul Mujtama

Membaca sejarah Ikhwanul Muslimin jangan sepotong-potong. Misalnya ansich melihat Ikhwan hanya di zaman Arab Spring. Tanpa mau melihat masa di belakangnya.

Mungkin aneh juga tiba-tiba saja Ikhwan muncul ke permukaan karena sebelumnya hampir tidak terdengar. Tapi semua itu (kemenangan Ikhwan dibanyak negara terjadi bukan karena kebetulan).

Di banyak negara Islam, Ikhwan tampil memainkan peranan penting untuk menjadi oposan yang kemudian sebagiannya menjadi pemenang pertama atau kedua.

Fenomena kebangkitan kembali Ikhwan akhirnya membuat musuh berpikir untuk menyingkirkannya untuk mengamankan status quo penguasa.

Sejarahnya, gerakan Ikhwan tidak habis-habisnya ditekan. Tapi anehnya mereka selalu eksis. Dihancurkan, hidup lagi. Disakiti, sembuh, sehat kembali. Dan seterusnya.

Ikhwan pernah dibantai habis-habisan di era Hafez Assad. Dan kemudian tiba-tiba muncul kembali di masa Bashar Assad. Ikhwan di bantai di masa Raja Faruq dan Gamal Abdul Nasser, tapi kemudian hidup lagi di masa Husni Mubarak. Ikhwan Libia di bantai di masa Muammar Khadafi tapi kemudian hidup lagi sesudahnya. Ikhwan Tunisia di bantai di zaman Bourghuiba dan Ali Zainal Abidin tapi kemudian hidup lagi sesudahnya.

Mengapa bisa demikian? Mengapa gerakan Ikhwan begitu cepat populer ketika mendapatkan momentumnya? Bukankah mereka sudah hancur?

Ikhwan bukanlah gerakan kemarin sore. Ikhwan punya akar di hati rakyat karena sejarah kepahlawanan dan keteladanannya yang panjang. Rakyat Palestina tidak bisa melupakan perjuangan Ikhwan yang turut berjihad melawan zionis. Begitupun rakyat Afghanistan dan Bosnia. Indonesia yang letaknya sangat jauh pun di belanya.

Gerakan Arab Spring di Timur Tengah misalnya dipicu oleh kezaliman penguasa diktator. Ikhwanul Muslimin menemukan momentumnya dan akhirnya menggema ke pelosok negeri. Dan masyarakat tahu bahwa selama ini yang melawan kezaliman dan penindasan adalah Ikhwan.