Ikhwanul Muslimin Sebagai Gerakan Islahul Ummah

Di buku “Tokoh-Tokoh Islam yang Paling Berpengaruh Abad 20” di halaman 285 ditulis:
“Pada masa itu (saat Syaikh Sa’id Hawwa duduk di bangku SMP), pengaruh parpol masuk ke sekolah-sekolah. Saat itu yang dirasakan oleh siswa ada tiga partai yang saling memperebutkan pengaruh, yaitu Partai Komunis, Partai Nasionalis Suriah, dan Partai Sosialis Arab. Di SMP Ibnu Rusyid, yang paling berpengaruh adalah partai sosialis. Pada masa itulah Said pertama kali mendengar tentang gerakan Ikhwanul Muslimin.”

Bisa kita bayangkan betapa sekulernya dunia Arab saat itu. Sosialisme-komunisme-nasionalisme sepertinya sudah menjadi barang yang halal paska runtuhnya daulah Usmaniyah. Menjadikan wajah dunia Arab umumnya, dan Suriah khususnya, menjadi sekuler. Pengajaran-pengajaran agama sepertinya hanya terdapat di dzawiyah-dzawiyah, pondok-pondok, madrasah-madrasah, masjid-masjid. Dibatasi hanya seputar suluk, tasawuf, tarekat, dan sejenisnya. Sedangkan masalah politik, entah dibatasi oleh rezim atau sengaja menjauhinya untuk terlibat. Salah satu guru Syaikh Sa’id Hawwa sendiri, yakni Syaikh Ibrahim Al Ghayalini adalah Mursyid tarekat Naqsyabandiyah mengajaknya untuk uzlah, suatu pandangan yang bertolak belakang dengan pemikirannya yang menghendaki perbaikan di tengah-tengah umat.

Artinya, gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin yang dikemudian hari mulai mewarnai perubahan islami ditengah masyarakat, adalah gerakan membangkitkan kembali kehidupan islami. Dan ini sah secara demokratis, sebagaimana gerakan sosialis dan komunis mewarnai kehidupan masyarakat menjadi lebih sekuler. Lebih khusus gerakan Ikhwan yang saya perhatikan, mampu turut memberikan kontribusi nyata dalam menyusun dustur islami dalam banyak karya tulis mereka. Misalnya DR. Abdul Qadir Audah menulis buku hukum pidana Islam, DR. Yusuf Al Qaradhawi menulis buku seputar ekonomi Islam, DR. Abdul Karim Zaidan menulis buku-buku seputar wanita dan keluarga, DR. Zaghlul Najjar dan DR. Abdul Majid Az Zindani menulis seputar islamisasi sains, DR. Muhammad Al Ghazali menulis buku seputar dakwah, akhlak, fikrah islami, dan motivasi, DR. Sayid Sabiq menulis buku di bidang fikih, DR. Abdullah Nashih Ulwan dibidang pendidikan, dst.

Berkat karya-karya mereka itu maka berdirilah bank-bank islami, sekolah-sekolah islami, kampus-kampus islami, dst. DR. Yusuf Al Qaradhawi adalah pendiri Bank Taqwa dan fakultas syari’ah universitas Qatar. DR. Musthafa As Siba’i adalah pendiri fakultas syari’ah Universitas Damaskus. Syaikh Mahmud Shawwaf adalah pendiri Universitas Islam Madinah.

Oleh karena itu, penting sekali di era ini penyebaran tsaqofah Islamiyyah untuk membentuk syakhsiyah Islamiyyah yang mencintai agamanya dan membangun peradaban dengan agamanya.

Ket. Foto: Prof. DR. Yusuf Al Qaradhawi bersama Prof. DR. Abdul Karim Zaidan (mantan muraqib am Ikhwanul Muslimin Iraq penulis kitab Al Mufashal fi Ahkamul Mar’ah wa Baitul Muslim fi syari’ah Islamiyyah 11 jilid yang diganjar penghargaan bergengsi Faishal Award)