Jangan Berlarut-Larut dalam Tangisan dan Penyesalan

Sering sekali dalam ungkapan panjang dan berlarut-larut orang bersedih dengan waktu yang berlalu. Ingin kembali kepada masa lalu tapi tidak bisa. Baginya kemudian tangis penyesalan tiada berujung yang menganggap bahwa dia tidak dapat menggapai cita²nya. Atau sudah terlambat untuk meraih apa yang diinginkan.

Seorang yang berumur 40 tahun menangisi dirinya sendiri karena tidak bisa melanjutkan sekolah atau kuliahnya lagi. Dia merasa sudah terlambat untuk itu. Lantas setelah umurnya beranjak lagi pada umur 41 tahun, dirinya kembali diingatkan lagi tentang cita-citanya itu. Dia pun menangis lagi. Dan seterusnya sampai matinya. Dia hanya bisa bersedih dan menangis.

Alangkah bijak ungkapan Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah tentang hal ini, “Sebab penyesalan atas hilangnya waktu sangatlah berbahaya. Terutama sekali bila orang yang mengalami penyesalan itu tahu betul bahwa tidak ada lagi jalan untuk bisa menggapai waktu yang hilang tersebut.”

Mengapa tidak dimulai saja dari sekarang untuk mewujudkan cita-cita itu. Mengapa tidak dimulai menulis apa yang ingin ditulis, mengingat kembali apa yang lupa, membaca buku yang ingin dibaca, mempelajari hingga menguasai, bekerja keras hingga kaya dan seterusnya dengan Istiqomah dan penuh kesabaran.