Karya Ilmuwan Islam Melampaui Zamannya

Saya heran sekaligus takjub dengan hasil penelitian para ilmuwan muslim di zaman keemasan Islam. Bagaimana mereka bisa melampaui zamannya. Peradaban seperti apakah yang ada pada saat itu?

Saya berpikiran, karena banyaknya karya mereka yang tidak sampai kepada kita entah karena peristiwa penghancuran Baghdad oleh Mongol yang menenggelamkan jutaan buku terbaik yang dimiliki perpustakaan terbesar di dunia saat itu, Baitul Hikmah.

Atau karena karya-karya mereka yang sedikit sampai kepada kita, ibarat emas permata yang seolah menampakkan hakikat peradaban Islam disaat itu. Misalnya saja karya Ibnu Nafis yang disebut-sebut sebagai bapak fisiologi sirkulasi, baru ditemukan pada tahun 1924 di Berlin Jerman. Dunia kedokteran modern dikagetkan oleh hasil penelitian Ibnu Nafis ini. Padahal beliau hidup 7 abad yang lalu tapi hasil penelitiannya ternyata mendekati kebenaran seperti yang nampak pada hasil penelitian modern saat ini. Peradaban seperti apakah saat itu sehingga karya-karya besar telah dihasilkan melampaui zamannya?

Tradisi keilmuwan saat itu bersumber dari semangat dalam mengamalkan nilai-nilai agama. Bahwa agama mengajarkan umatnya untuk menuntut ilmu. Bahwa menuntut ilmu itu berpahala dan balasannya adalah surga. Para malaikat menaungi orang-orang yang sedang belajar. Setiap buku yang dibaca, setiap langkah kaki ke sekolah, madrasah atau kampus akan mendapat ganjaran pahala. Dan ukuran besar kecilnya pahala tergantung pada keikhlasannya kepada Allah Subhanahu wa taala. Tidak heran mereka giat dan tekun belajar karena nilai-nilai agama sudah mendarah daging pada diri mereka. Tercabutnya tradisi yang baik ini artinya melemahkan motivasi umat untuk tekun belajar.

Masa kecil ilmuwan Islam saat itu dididik dengan Alquran dan Al hadits serta ilmu-ilmu alat guna memahami agama dan dasar untuk dijadikan pegangan hidup di dunia. Tidak heran kita temui para ilmuwan Islam, selain dikenal ahli di bidang sains dan teknologi, juga pakar dibidang ilmu-ilmu agama.

Tentang Ibnu Nafis misalnya Shalahuddin Ash Shafadi berkata, “Beliau adalah seorang imam yang utama nan bijaksana.” Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah berkata, “Beliau menulis kitab yang membahas Ushul fiqh, fiqh, bahasa Arab, hadits, ilmu bayan, dsb.” Salah satu karya beliau di bidang fiqh adalah Syarah terhadap kitab At Tanbih karya Imam Abu Ishaq Asy Syairazi yang membahas tentang cabang-cabang fiqh madzhab Syafi’i.

Proses penghancuran karya-karya emas umat Islam di masa jayanya baik dalam pengertian secara lahiriah seperti kejadian di Baghdad dan Andalusia. Dan secara maknawiyah yaitu deislamisasi seperti yang dilakukan para orientalis kafir dalam mencabut Islam dari umatnya sendiri, adalah bencana bagi umat manusia secara keseluruhan dan khususnya kepada umat Islam yang mulai kehilangan ghirah dan kebanggaannya kepada sejarah agamanya yang agung.