Kekayaan Sejati dalam Ajaran Rasulullah

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pernah berdoa, “Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin.”

Artinya:
“Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin dan bangkitkan lah aku kelak dalam kelompok orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani)

Semula saya yang dhaif ini memandang, dari hadits ini, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lebih menginginkan menjadi orang yang miskin ketimbang orang yang kaya. Ternyata tidaklah demikian adanya.

Hal ini berkaca pada hadits² beliau yang lain yang seolah bertolak belakang dengan hadits di atas. Dalam hadits lain, beliau memohon perlindungan Allah dari fitnah akibat kemiskinan, serta memohon perlindungan dari kekafiran dan kefakiran. Dan ternyata juga Allah beri beliau kecukupan setelah sebelumnya dalam keadaan serba kekurangan (Wa wajadaka ‘ā`ilan fa agnā).

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud “miskin” pada hadits di atas adalah “khusyu” dan “tawadhu”. Jadi seolah beliau berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai seorang khusyu dan tawadhu, matikanlah aku sebagai seorang khusyu dan tawadhu serta bangkitkanlah aku kelak dalam kelompok orang-orang yang khusyu dan tawadhu.”

Dengan kata lain, raihlah kekayaan duniawi tapi tetaplah khusyu dan tawadhu. Agar kita tidak sombong dan takabur terhadap orang lain. Ini adalah sebuah perpaduan yang sempurna antara materi dan ruhani. Jasad dan hati. Duniawi dan ukhrawi. Ini menggambarkan bahwa ajaran Islam adalah agama yang menyeluruh dan berbuat yang terbaik dikedua sisinya. Sungguh ini adalah kebenaran yang nyata, yang telah diajarkan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam kepada kita.