Kesederhanaan Menumbuhkan Kekayaan

Melihat kurma-kurma ini mengingatkan saya pada ibunda Imam Ahmad bin Hanbal. Sejak kecil Ahmad sudah kehilangan ayahandanya. Sehingga hanya sang ibulah yang membesarkannya.
 
Sang ibu merawat dan mendidiknya dengan penuh cinta dan kewaraan. Sebagai tulang punggung keluarga, beliau menafkahi anaknya dengan cara menjual kain hasil tenunannya. Ditambah lagi uang sewa rumah warisan dari mendiang suaminya. Walaupun keluarganya yang lain berasal dari kalangan berada, tapi sang bunda menolak meminta-minta. Dia cukupkan dengan apa yang ada dan menjauhi yang haram karena kewaraannya. Baginya hidup sederhana lebih mulia daripada hidup bergelimang harta haram tapi terhina.
 
Pernah suatu ketika Ahmad ingin mengembara menuntut ilmu namun dia tidak punya banyak uang untuk itu. Sang ibu memberinya uang seribu dirham tapi Ahmad menolaknya. Karena lebih baik uang itu untuk sang ibu. Namun sang ibu berkata, cukuplah saya memakan kurma-kurma ini.
 
Hanya memakan beberapa butir kurma setiap hari mungkin saja cukup untuk hidup. Bila tujuannya untuk menghemat pengeluaran karena harga kurmanya murah. Apalagi kurma yang berkualitas rendah pasti harganya jauh lebih murah.
 
Jawaban sang ibu sungguh mengharukan. Sang ibu menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dari guru terbaik meskipun dia sendiri menderita karenanya. Ketulusan hati sang ibu ini membuat Ahmad semakin bersemangat dalam menuntut ilmu.
 
Saya berpikir tentang hidup sederhana tapi bermakna ini. Kita sebagai orangtua mungkin berpikir tentang biaya pendidikan yang mahal. Tapi tidak pernah berpikir apa yang bisa dilakukan dengan apa yang ada. Ada orangtua yang stres memikirkan beban uang sekolah anaknya sementara dia sendiri kuat merokok dan bergaya hidup mewah. Coba saja hidup dengan sederhana demi memprioritaskan pendidikan anak, niscaya dia akan bisa hidup tenang.