Kisah Mengharukan Abu Ubaidah bin Al Jarrah dalam Menghadapi Wabah Penyakit

Abu Ubaidah bin Al Jarrah radhiyallahu Anhu adalah salah seorang sahabat Nabi yang utama. Beliau termasuk dalam jajaran sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Dan dijuluki Nabi sebagai “amin-nya umat” atau orang kepercayaan umat.

Keteguhan dan kesabaran beliau begitu tampak saat Umar bin Khaththab mengangkat beliau menjadi gubernur untuk wilayah Syam. Beliau bukan hanya pemimpin dalam artian duniawi, tapi juga seorang ulama yang taat dan membimbing umatnya ke jalan Allah. Beliau jalankan amanat kepemimpinan itu dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan beliau yang sangat Zuhud dan wara. Hingga tiba masanya wabah penyakit menular merajalela di wilayahnya. Tidak tanggung-tanggung lebih dari 25 ribu penduduk Syam wafat karena wabah itu, termasuk sahabat Nabi yang masyhur: Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail.

Bukan itu sebenarnya yang ingin saya ceritakan karena setiap yang bernyawa pasti akan mati. Tapi bagaimana keteguhan dan kesabaran beliau dalam memegang teguh amanat umat yang ada di pundaknya.Khalifah Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu, Umar segera mengirim surat kepada Abu Ubaidah yang isinya meminta agar ia segera keluar dari daerah yang terkenah wabah tersebut.

Namun, Abu Ubaidah justru menjawab suratnya dengan mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, aku mengerti apa yang engkau inginkan terhadapku. Sesungguhnya aku berada di antara tengah-tengah tentara kaum Muslimin dan aku tidak ingin berpisah dari mereka. Aku tidak akan meninggalkan mereka hingga Allah menetapkan apa yang telah ditetapkan-Nya kepadaku dan seluruh pasukanku. Maafkanlah, aku tidak dapat mengabulkan keinginanmu.”

Mengetahui respon Abu Ubaidah, Umar menangis dan mengirimkan surat kepada Abu Ubaidah dan memintanya agar memindahkan pasukan ketempat yang tinggi dan mencari udara yang sejuk.

Wilayah negeri Syam terbentang sangat luas. Bila dikonversi saat ini adalah gabungan dari wilayah Suriah, Palestina, Libanon, Yordania dan sebagian Turki. Jangan tanya tentang alat komunikasi yang modern dan ilmu medis yang canggih atau temuan-temuan vaksin yang dengan cepat mengibati. Semuanya masih sangat sederhana. Satu-satunya cara yang paling efektif adalah mengisolasi diri ketika wabah penyakit menular terjadi. Dan cara seperti ini kemudian diterapkan hingga saat ini dalam mengatasi wabah penyakit menular yang semakin meluas.

Abu Ubaidah begitu setia menemani rakyatnya. Beliau melihat rakyatnya dan mengunjungi satu persatu yang sakit sekuat tenaga beliau hingga beliau tampak letih dan lemah hingga akhirnya jatuh sakit terserang penyakit ini. Di mana sakitnya itu akhirnya membuatnya syahid. Kalaulah Abu Ubaidah di saat sehatnya mau keluar dari Syam meninggalkan rakyatnya, pastilah bisa. Tapi beliau adalah seorang pemimpin yang amanah. Apapun yang terjadi, beliau tetap akan membersamai rakyatnya baik suka maupun duka.