Kitab Raudhatul Muhibbin dan Bukti Kejayaan Islam Diraih dengan Ilmu

Pemahaman manusia tentang cinta sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati, karenanya istilah┬▓ yang berkaitan dengan cinta menjadi banyak. Hal ini merupakan suatu kewajaran berkenaan dengan sesuatu yang dipahami secara mendalam. Ini terjadi sebagai bentuk bentuk perhatian dan perwujudan pengagungan sekaligus kecintaan terhadap rasa cinta itu sendiri. Yang pertama seperti singa dan pedang, kedua seperti bencana, dan yang ketiga seperti arak yang memabukkan. (Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah)

Pernyataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam bab awal kitabnya, Raudhatul Muhibbin, membuat saya merenung kembali tentang warisan para ulama di masa keemasan Islam. Di mana pada saat itu para ulama begitu banyak mewariskan ilmu pengetahuan pada generasi selanjutnya.

Entah sudah berapa banyak buku yang telah mereka tulis. Tentang berbagai hal, yang saat ini kita menyebutnya dengan istilah-istilah Barat seperti psikologi, ekonomi, politik, sosiologi, dst. Untuk menulis satu tema saja, kadang mereka menulis ratusan hingga ribuan lembar.

Begitu banyaknya mereka menulis dengan rinci dan menyedikan deskripsi yang detail. Yang pasti mereka pasti sangat kuat membaca. Imam Abul Faraj Ibnu Al Jaizy rahimahullah, contohnya, bersedih dengan kenyataan orang-orang di zamannya hanya membaca mengandalkan buku-buku ringkasan. Seolah tidak mampu lagi membaca kitab-kitab induk yang berjilid-jilid tebalnya. Itu di zamannya sekitaran abad ke 13 Masehi. Saya percaya dengan teori membaca menulis ini ibarat simbiosis mutualisme. Sehingga penulis yang kurang bacanya akan mempengaruhi karya tulisnya.

Bagaimana dengan kita yang berada di abad 21 Masehi. Jangankan membaca kitab induk para ulama dulu, membaca mukhtasharnya saja antara ada dan tiada. Ada karena baru dibaca sebagian saja. Tiada karena memang belum dibaca sama sekali.

Karya-karya para ulama dulu yang bertahan lama hingga sekarang untuk dibaca, dikaji, dan dijadikan rujukan menunjukkan bahwa kejayaan Islam berada di puncaknya dengan ilmu dan keimanan. Saat itulah karya-karya indah bermunculan. Tidak hanya buku sebagai teori tapi juga aplikasinya di berbagai bidang kehidupan.