Maksiat Menghalangi Manusia dari Memperoleh Hikmah

“Al-Hikmah tidak akan turun pada hati yang di dalamnya terdapat keinginan pada maksiat.” (Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi)

Maksiat memadamkan cahaya hati sehingga ia tidak mampu mengeluarkan hikmah. Semakin besar keinginan berbuat maksiat, semakin sempit akal pikiran meraih hikmah.

Perhatikanlah hal ini, wahai para penuntut ilmu! Bagaimana mungkin kita memperoleh hikmah sementara kita bermaksiat? Hikmah bertebaran pada jiwa yang taat, bukan mereka yang gemar bermaksiat. Bukankah Allah Swt. telah berfirman, وَاتَّقُوا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ “Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu.” (QS. al-Baqarah: 282)

Yaitu mengajari ilmu asli; yang dapat menyembuhkan dan memberikan petunjuk, yang diilhamkan oleh Allah hanya kepada orang yang bertakwa.

Sementara mereka yang rajin menuntut ilmu namun gemar berbuat maksiat atau tidak menjadikan ilmunya itu jalan menuju takwa kepada Allah. Tidak memperoleh ilmu melainkan ilmu dakhil atau ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu itu bukanlah inti permasalahan, tetapi hanya kulit luarnya saja. Maksiat telah melencengkan ilmu dari makna sesungguhnya.