Masjid, Perpustakaan, dan Kejayaan Islam

Di zaman kejayaan Islam, keberadaan perpustakaan banyak dimulai dari masjid. Di mana ada masjid, di sana ada perpustakaan besar.

Perpustakaan dan Universitas tertua di dunia, Al Qawariyyin di Maroko, bermula dari keberadaan masjid Al Qawariyyin yang dibangun oleh saudagar dan dermawan Fatimah Al Fihriyah. Begitupun di masjid al Azhar, masjid Jami Umayyah, masjid Cordoba, dst. Dari masjid-masjid inilah terlahir ulama-ulama dan ilmuwan handal tingkat dunia seperti Ibnu Rusyid dan Ibnu Khaldun.

Tapi sayang, hampir setiap saya berkunjung ke banyak masjid di negara kita, jarang saya temukan perpustakaan. Kalaupun ada koleksi bukunya sangat sedikit dan terkesan tidak terurus. Tidak ada pustakawan yang memenej buku-bukunya.

Untuk memulai gerakan satu masjid, satu perpustakaan, bisa dimulai dari masjid-masjid besar/agung/Jami. Perpustakaan itu tidak hanya memuat buku-buku fisik saja, tapi juga menyediakan buku-buku digital dengan fasilitas penunjang. Plus coffe book sebagai tempat diskusi dan “nongkrong” para pencinta dan pembaca buku. Hal ini pasti akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung masjid dan bisa menjadi wisata edukasi yang mendidik sekaligus menghibur hati. Bahkan mereka yang semula tidak shalat berjamaah, akhirnya bisa ikut shalat di masjid.

Insyaallah dengan cara sederhana ini kita bisa memulai kebangkitan Islam yang kita cita-citakan.