Membunuh Fitrah

Pernah suatu ketika saat saya membawa satu dus Al Qur’an yang saya letakkan dimotor bagian depan, anak saya yang saat itu masih berumur 6 tahun berkata, “Ayah, Alqurannya jangan diletakkan dibawah, jangan diinjak.”

Terus terang saya kaget dengan ucapan anak saya ini. Masih kecil sudah punya adab terhadap Alquran. Saya minta maaf kepadanya. Lalu saya letakkan dus tersebut di jok motor bagian belakang.

Pernah juga anak bungsu saya yang masih berusia lima tahun berkata kepada saya saat Maghrib, “Ayah sudah azan. Laki-laki shalat di masjid, kalau perempuan shalat di rumah.”

Saya yang sedang berbaring kaget dengan kata-kata itu. Kata-kata itu ibarat cambuk buat saya, untuk mengingatkan saya. Saya katakan kepadanya, “Iya nak, ayah sekarang berangkat ke masjid.”

Saya jadi teringat dengan hadits Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang menyebutkan bahwa sesungguhnya fitrah anak adalah beriman kepada Allah, orangtuanyalah yang membuatnya menjadi Nasrani, Yahudi, atau bahkan majusi.

Artinya, bahwa sudah ada fitrah dalam diri seorang anak, yakni iman dan taat kepada Allah dan RasulNya serta segala kebaikan yang ada di dalamnya. Bahkan sejak baru lahir ke dunia, sang anak telah beriman kepada Allah Subhanahu wa taala.

Jika saja saat itu saya berkata kepada anak saya, “Tidak apa-apa nak diinjak. Ini hanya kertas biasa. Selagi tidak rusak, tidak apa-apa diinjak.” “Ayah malas nak sholat berjamaah di masjid. Di rumah juga ngga apa-apa kok.”

Artinya perlahan demi perlahan saya sudah membunuh fitrah anak saya. Fitrah yang di dalamnya telah tertanam keimanan dan ketaatan kepada Allah.

Membunuhnya artinya mencabut fitrah dalam dirinya. Hingga yang paling mengerikan adalah tidak tersisa fitrah itu. Anak menjadi jahat, anak berkata kasar, anak tidak mau menjalankan perintah agama, anak menghina agama, anak murtad, dst. Naudzubillahi mindzalik.