Menempuh Jalan Kesufian

Disebutkan bahwa ada seorang tokoh JIL yang kini sedang mengkaji tasawuf. Bagi saya itu kabar baik. Dan harap saya juga, semoga sang tokoh tersebut insyaf dari pemikirannya yang nyeleneh di masa lalu. Sebagaimana yang pernah terjadi pada diri Imam Al Ghazali rahimahullah setelah mengembara dilautan pemikiran, maka dia menjatuhkan pilihannya pada tasawuf dan itu jelas-jelas memperbaiki dan meluruskan segala penyimpangan yang terjadi sebelumnya.

Kecuali jika sang tokoh ini sekedar mengkajinya tanpa mendalaminya, mempelajari teorinya tanpa mengamalkannya. Karena bagi saya pemikiran tasawuf itu kontra dengan pemikiran liberal. Jika tasawuf artinya terikat dengan syariat, maka sebaliknya dengan liberal yang melepas syariat atau menentukan syariat atau jalannya sendiri. Sesuai dengan hawa nafsunya sendiri.

Orang-orang sufi hakiki adalah orang-orang yang sangat kuat memegang teguh agama. Mereka menjalankan perintah Allah dan RasulNya, sami’na wa athona. Mereka menjauhkan dosa besar maupun kecil. Sangat tinggi adab mereka kepada Allah, RasulNya, kitabNya, Sunnah NabiNya, orang-orang saleh, dan segala simbol² agama ini. Bagaimana mungkin ada seorang sufi berani menginjak-injak Al Qur’an dengan alasan Al Qur’an sebatas kertas, menafsirkannya dengan gaya hermeneutika, dan meninggalkan penafsiran yang telah dibuat orang-orang alim dari kalangan agamanya sendiri. Maka jika ada sufi yang jauh dari syariat, bisa dipastikan ia sebatas sufi penampilan (rasmiyah), sufi sebatas lisan, bukan hati dan perilakunya, bukan hakiki sebagaimana yang telah saya gambarkan di atas.

Buku-buku tazkiyatun nafs atau tasawuf Sunni yang layak kita kaji di antaranya: Sirah Nabawiyah dan Sirah Sahabat karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya adalah puncak kesufian hakiki yang wajib para muridin teladani, Bidayatul Hidayah dan Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali Asy Syafi’i, Minhajul Qashidin karya Imam Ibnu Al Jauzy Al Hanbali, Madarijus Salikin karya Imam Ibnul Qayyim Al Hanbali, kitab Al Hikam yang sudah diberi Syarah misalnya karya Fadhilatusy Syaikh Sa’id Hawwa, dst.

Hindari mengkaji pemikiran tasawuf falsafi karena bisa menjerumuskan kita pada kesesatan jika kita tidak punya basic syariat. Dan juga waktu kita yang terbatas, di mana begitu melimpahnya buku-buku tasawuf, maka memilih ilmu yang bermanfaat dalam Dien ini adalah salah satu tanda keimanan kita kepada Allah dan RasulNya.