Pelajaran dari Imam Ath Thabrani

Namanya termasuk ke dalam jajaran ahli hadits tsiqoh, hafidz yang masyhur dan musnid Dunya. Berikut ini beberapa pelajaran singkat yang dapat dipetik dari hidup beliau.
“Imam Ath Thabrani memulai perjalanan mencari hadits saat berusia 13 tahun.” (Ash Shufdi, Al Wafi bil Wafayat 15/213)
 
Usia 13 tahun kalau di zaman sekarang artinya sekitar kelas 1 SMP. Masih sangat muda sekali tapi sudah punya cita-cita yang kuat untuk menjadi seorang ahli hadits. Saat di mana anak-anak seusia itu saat ini yang sedang asyik bermain HP, Games, dan terjebak pada cinta monyet, Imam Ath Thabrani muda malah sibuk dengan dunia ilmu. Memang kebesaran dan kesuksesan seseorang bisa dilihat dari bagaiman ia memberlakukan masa mudanya. 
 
“Imam Ath Thabrani menempuh perjalanan mencari hadits selama 33 tahun, dengan jumlah guru mencapai 1000 orang.” (Ibnu Khallikan, Wafayatul A’yan 2/407)
 
Menuntut ilmu kepada 1000 orang guru selama 33 tahun adalah waktu yang panjang dan melelahkan. Zaman sekarang ini untuk meraih gelar sarjana hingga doktor, seseorang bisa menempuh waktu selama 10-15 tahun. Artinya, bila diukur saat ini, kualitas pendidikan Imam Ath Thabrani setara dengan 3x meraih gelar Sarjana, 3x meraih gelar master, 3x meraih gelar doktor. 
 
Imam Ath Thabrani berkata, “Dulu aku tidur di atas Al Bawari (tikar yang dibuat dari anyaman rumput) selama 30 tahun.” (Ibnu Abdul Hadi, Thabaqat Ulama Al Hadits, 3/108)
 
Menuntut ilmu tidak identik dengan kaya atau miskinnya seseorang. Menuntut ilmu dengan keterbatasan pun bisa dilakukan karena ilmu hanya bisa diraih dengan kesungguhan dan kesabaran. Sedangkan harta kekayaan hanya sebatas sarana penunjang untuk meraih apa yang diinginkan. Seseorang yang tidak mampu membeli buku bisa meminjamnya di perpustakaan atau meminjamnya kepada teman; membacanya, mencatatnya atau menyalinnya. Untuk sekolah gratis bagi yang tidak mampu hari ini banyak kita jumpai. Artinya, terbuka peluang untuk meraih kesuksesan ditengah keterbatasan yang ada pada diri kita. 
 
“Imam Ath Thabrani wafat di kota Isfahan pada usia 100 tahun.” (Ibnu Khallikan, Wafayatul A’yan 2: 407)
 
Kota Isfahan saat ini berada di Iran. Masyarakat Iran saat ini adalah penganut syiah padahal dulunya wilayah ini adalah ahlussunnah wal jamaah. Banyak Imam Ahlussunnah lahir, besar, dan wafat di wilayah ini. Semoga Allah mengembalikannya lagi ke pangkuan ahlussunnah.
 
Imam Ath Thabrani menulis banyak sekali kitab. Salah satunya yang terkenal dan terbesar adalah Mu’jam Al Kabir. Yaitu ensiklopedia hadits terbesar di dunia sebanyak 12 jilid. Maka ketika orang-orang menyebut kata “Mu’jam” secara umum maka kemungkinan besar merujuk pada nama Mu’jam Al Kabir ini.
 
Umur beliau yang mencapai 100 tahun insyaAllah berkah dilihat dari banyaknya karya yang beliau tulis semasa hidupnya. Semoga Allah merahmati beliau dan menjadikan seluruh hasil karyanya sebagai amal jariyah beliau. Aamiin ya Rabbal Alamiin. 
 
Sumber:
https://kisahmuslim.com/6402-imam-ath-thabrani.html
https://www.atsar.id/2019/03/biografi-imam-ath-thabrani.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Ath-Thabrani