Peradaban Islam Peradaban Tulisan

Kalau kita membaca sejarah, disebutkan tentang banyaknya para ulama dalam menulis buku. Satu orangnya bisa menulis puluhan hingga ribuan jilid buku. Padahal dari segi usia sama seperti orang-orang saat ini pada umumnya.

Saya menyadari begitu banyak tema yang mereka tulis sehingga banyak di antara ulama itu dijuluki ensiklopedia yang berjalan. Dan saya tahu tidak semua karya-karya ilmiah itu sampai kepada kita. Terutama sejak peristiwa-peristiwa mengerikan terjadi seperti penghancuran kota Baghdad oleh Mongol, peristiwa perang salib, dan penghancuran kerajaan Islam Andalusia di Spanyol. Imbasnya buku-buku mereka yang hadir kepada kita, sedikit dan belum tentu juga kebenarannya; ada pengurangan atau penambahan, asli atau palsu. Perlu kerja keras untuk menelitinya kembali.

Kita saksikan sendiri, terutama sejak masa kekhalifahan Bani Usmaniyah, kualitas intelektual umat Islam mengalami penurunan secara bertahap. Dunia militer terlihat lebih mendominasi ketimbang pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bukan suatu kesalahan yang fatal juga, karena mungkin masa itulah fase sejarah yang harus dilalui dengan cara seperti itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa penguasa Islam dan umat Islam saat itu gagal mengantisipasi terjadinya keruntuhan itu. Yang berakibat fatal, tidak hanya bagi umat Islam, tapi bagi kemanusiaan secara umum. Sebagaimana dibahas dalam buku Maazha Khasiral ‘Alamu Binhithaathil Muslimin karya Al Allamah Sayyid Abul Hasan Ali An Nadawi Rahimahullah.

Tema renungan saya ini adalah mengutip perkataan ilmuwan Islam, Al Jahidz yang hidup di abad 9 M, “Peradaban Islam adalah Peradaban Tulisan.” Bahwa istananya yang megah, universitasnya yang besar, tumpukan-tumpukan kejayaannya yang gemilang adalah dibangun dan disusun dari buku-buku ilmiah, lembar-lembar halaman ilmu yang penuh gizi, dan catatan-catatan penemuan penting yang dihasilkan dari cucuran keringat, darah, dan air mata.

Saya ingin mengajak kita semua menyegarkan dunia dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat, yang kita bisa. Bila menulis mendorong kita untuk membaca, maka membaca, kata Imam Syafi’i, mendorong kita untuk beramal. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk melakukan semua itu. Aamiin.