Sejarah yang Dilupakan

Melihat banyaknya buku sejarah yang ditulis para ulama di masa kejayaan islam membuat saya berpikir, begitu perhatiannya mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang ada pada zaman mereka. Mereka mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah sedemikian mendetail dan panjang lebarnya. Menunjukkan ketekunan mereka dalam membaca, mengamati, dan menulis apa yang mereka saksikan dan rasakan.

Kitab terbesar yang pernah ditulis ulama adalah kitab Al Funun karya Imam Ibnu Aqil Al Hanbali. Ibnu Rajab Al Hanbali menyebut angka 800 jilid, Adz Dzahabi menyebut angka 400 jilid, Ibnu Al Jauzi menyebut angka 200 jilid dan dia baru memiliki 150 jilid, Syaikh Abu Hakim an-Nahrawani mengatakan jika dirinya sudah membaca kitab al-Funun sampai jilid ke-304. Yang membedakan dari penyebutan angka itu kemungkinan karena ada beberapa jilid yang kemudian di gabung sehingga lebih sedikit jumlah jilidnya. Sebagaimana namanya, para ulama menyebut bahwa kitab ini banyak sekali ilmu pengetahuan di dalamnya. Semua yang dipelajari, amati, saksikan, dan rasakan beliau tulis di dalamnya.

Tetapi semakin kesini, penulisan-penulisan sejarah semakin berkurang. Mungkin ini pandangan subjektif saya atau perasaan saya saja. Jika benar terjadi, catatannya adalah pertama, melemahnya semangat dalam menggali sejarah di zamannya. Sehingga literatur-literatur zaman kemunduran Islam sulit untuk ditemui. Kedua, perhatian umat kepada buku-buku sejarah di zamannya sangat kurang karena penulisannya hanya mengulang-ulang yang sudah ada atau itu-itu saja. Kedua hal ini bisa saja terjadi secara bersamaan.

Bagi saya, sangat penting untuk mengamati dan mencatat hal-hal penting di zaman kita. Setidaknya untuk membentuk pemahaman kita tentang hakikat zaman kita. Lebih-lebih ia mampu menembus batas-batas ketiadaan kita guna dibaca dan dipelajari generasi setelah kita. Semoga dengan niat suci ini Allah anugerahkan kepada kita pahala amal jariyah. Aamiin ya Rabbal alamiin