Spesialisasi Keilmuan Para Ulama

Para ulama kita menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan. Diibaratkan, mereka ini ensiklopedis yang berjalan. Ketika ditanya tentang suatu ilmu, mereka mampu menjawabnya seolah memang pakar dibidangnya. Mereka mempelajari ilmu fikih, ushul fikih, hadits, tafsir, bahasa, sejarah, tasawuf, filsafat, mantiq, dst. Mereka mempelajari semua ilmu itu dengan penuh ketekunan sehingga seolah mereka pakar dibidang semua ilmu itu.
 
Tapi setiap ulama itu punya kecenderungan dan keahlian yang lebih kuat pada suatu ilmu sehingga dia berada di puncaknya di wilayah itu. Sementara untuk ilmu yang lain, dia berada dibawah ulama yang lain. Misalnya, Imam Laits bin Sa’d lebih fakih ketimbang Imam Malik. Imam Ahmad bin Hanbal lebih terkenal sebagai seorang ahli hadits ketimbang keahliannya yang lain. Imam Al Ghazali lebih dikenal ahli tasawuf walaupun dia punya segudang ilmu yang lain.
 
Hal ini menunjukkan bahwa pertama, ilmu itu luas. Tidaklah mampu manusia menggapai seluruhnya dalam waktu yang sangat terbatas. Kedua, manusia diciptakan dengan kecenderungan-kecenderungannya, dengan bakat-bakatnya, agar mereka dapat berpikir dan bekerja dengannya. Ketiga, manusia hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Jangan sombong dengan banyaknya ilmu yang ada pada diri kita karena di atas langit masih ada langit. Keempat, keahlian-keahlian yang ada pada manusia atau spesialisasinya memberi kita pelajaran untuk berkaca padanya tentang keahlian yang ingin kita cari, ketahui, dan berada di dalamnya. Jangan sampai seorang ahli kedokteran lalu kita berkaca padanya tentang ilmu hadits, ilmu fikih, dst walaupun bisa jadi dia mengetahuinya secara umum.
 
Di zaman sekarang kita mengenal istilah multiple intelligent. Menunjukkan manusia memiliki kecenderungan yang beragam pada suatu kecerdasan tertentu. Artinya, kemampuan kita mungkin lebih rendah pada satu kecerdasan tapi bisa lebih tinggi pada kecerdasan yang lain.