Sulitnya Menterjemahkan Kitab!!

Memang tidak mudah membaca, dengan sebenar-benarnya, buku Islam karya ulama di masa lalu. Bila buku terjemahan, maka penerjemahnya dituntut untuk jangan salah. Misalnya dikitab aslinya tertulis “jangan makan” tapi penerjemahnya menulis “makan”. Kata “jangan” hilang.

Entah karena lupa atau tidak mengerti. Kebanyakan karena tidak disengaja. Tapi tetap saja fatal. Lapis kedua setelah penerjemah adalah editor. Penerjemah salah, editor bisa segera menyuntingnya. Tapi kalau editornya salah juga, atau sekedar copy writer/ editing ringan, akibatnya buku yang diterbitkan juga salah.

Saya teringat perkataan bapak Bambang Trim, guru saya dibidang editing, bila editor tidak becus menyunting naskah, balasannya neraka. Ekstrim memang tapi menjadi cambuk buat saya.

Bila buku bahasa Arab, maka tidak semuanya benar cetakannya, benar tulisannya, benar urutannya, dsb karena banyak kitab asli (makhthuth/manuskrip) kini berada di perpustakaan dunia Barat.

Kebanyakan adalah hasil curian yang dilakukan oleh orang² kafir. Maka sudah menjadi keharusan ilmiah pada akhirnya para ulama Khalaf/mutaakhirin melakukan tahqiq dan tadqiq terhadap naskah-naskah yang ada sekarang untuk menemukan keaslian dari sumbernya.

Ini bukan pekerjaan yang mudah karena membutuhkan keluasan dan kedalaman ilmu, terlebih spesialisasi dibidangnya, memakan waktu yang tidak sebentar dan terkadang dikerjakan oleh sebuah tim.

Jadinya pekerjaan belajar bukanlah perkara satu waktu saja tapi harus terus dilakukan hingga akhir hayat kita. Sambil berdoa kepada Allah memohon petunjukNya agar kita berada di jalan yang lurus.

Bacaan lebih lanjut:
https://m.hidayatullah.com/…/manuskrip-islam-dalam-genggama…
https://m.hidayatullah.com/…/manuskrip-islam-dalam-genggama…
http://abu-farras.blogspot.com/…/israel-mencuri-manuskrip-k…