Yang Paling Dekat Kepada Makhluk

Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un
Kullu nafsin dzaiqatul maut

Telah wafat guru saya, tokoh masyarakat, dan mantan kepala Depag kota Bandung KH. Diding pagi ini. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

Saya sudah mengenal beliau sejak saya masih kuliah dulu. Beliau sering berceramah di masjid dekat tempatnya tinggal. Salah satu keistimewaan ceramah beliau adalah mengajak mustami melihat peristiwa alam yang terjadi akhir-akhir ini. Untuk dijadikan i’tibar atau pelajaran dalam hidup.

*****

Saya merenung tentang kematian. Sesungguhnya ia adalah sesuatu yang dekat kepada makhluk. Mereka yang dulunya bercengkrama bersama, tidak terasa kini tiada. Seolah waktu berjalan begitu cepat.

Di mana mereka yang dulunya tampan rupawan. Di mana mereka yang dulunya gagah perkasa. Di mana mereka yang dulunya kaya raya. Di mana Firaun, namrudz, dan orang-orang zalim lainnya. Di mana mereka yang mulutnya lancang kepada Tuhan. Mereka semua sudah pasti masuk kubur dan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan mereka di dunia.

Ketika mendengar orang saleh wafat, saya berkata wahai orang terkasih betapa banyak amalmu, betapa lapang tempatmu, sungguh kami iri kepadamu sebagaimana janji Allah kepada orang-orang beriman dan Allah Maha menepati janjinya. Semoga kami kelak bersamamu dalam surgaNya yang baqa.

Ketika mendengar orang zalim wafat, saya berkata wahai orang yang hidupnya di dunia bertabur kezaliman, cukuplah apa yang engkau lakukan di dunia sebagai pelajaran bagi kami dan cukuplah kematianmu menutup semua kejahatanmu. Sekarang tiba saatnya keadilan hakiki ditegakkan.

*****

Setelah menyalatkan, saya bersalaman dengan jamaah. Saya berkata di dalam hati, Ya Allah, kami ini hanyalah calon² mayit. Ampunilah dosa-dosa kami dan wafatkan kami dalam keadaan Husnul khatimah.